ü
Pengertian
dan Jenis Alur Cerita
Alur
adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga
menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita
ü Tahapan alur atau plot terbagi menjadi lima bagian yaitu :
- Tahap penyituasian (situation)
- Tahap pemunculan konflik (Generating Circumstances)
- Tahap Peningkatan konflik (rising action)
- Tahap Klimaks
- Tahap Penyelesaian (denoument)
ü Jenis-jenis
alur
1.
Alur maju, yaitu alur atau jalan cerita yang disusun berdasarkan urutan
waktu (naratif) dan urutan peristiwa (kronologis).
2.
Alur
mundur, yaitu alur atau jalan cerita yang
mengembalikan cerita ke masa atau waktu sebelumnya.
3.
Alur campuran
(flashback), yaitu perpaduan antara alur maju dan alur mundur. Cerita
bergerak dari bagian tengah, menuju ke awal, dilanjutkan ke akhir cerita
4.
Alur erat, yaitu Hubungan antara peristiwa yang satu
dengan yang lainnya organic sekali. Tidak ada satu peristiwa pun yang dapat
dihilangkan.
5.
Alur
longgar, yaitu hubungan antara peristiwa tidak sepadu
sehingga ada kemungkinan untuk menghilangkan salah satu peristiwa, tanpa
merusak keutuhan cerita.
6.
Alur
tunggal, yaitu alur yang Hanya menceritakan satu episode
kehidupan.
7.
Alur ganda, yaitu Menceritakn lebih dari satu
kehidupan.
8.
Alur
menanjak, yaitu Jalan cerita terus menaik, tanpa
turun, tanpa ada peleraian sampai puncak penyelesaian cerita.
ü Perbedaan Alur atau Plot
v Perbedaan plot berdasarkan kriteria urutan waktu
Urutan waktu yang dimaksudkan adalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi yang bersangkutan. Berdasarkan urutan waktu, plot dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu kronologis dan tak kronologis. Yang pertama disebut sebagai plot lurus, maju atau dapat dinamakan progresif, sedang yang kedua adalah sorot balik, mundur, flasback, atau juga disebut sebagai regresi. Plot pada cerpen dikatakan progresif jika pristiwa-pristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, pristiwa yang pertama diikuti oleh pristiwa-pristiwa yang kemudian. Selanjutnya sebuah novel dikatakan regresi jika urutan kejadian tidak bersifat kronologis. Cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhri, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan.
Urutan waktu yang dimaksudkan adalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi yang bersangkutan. Berdasarkan urutan waktu, plot dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu kronologis dan tak kronologis. Yang pertama disebut sebagai plot lurus, maju atau dapat dinamakan progresif, sedang yang kedua adalah sorot balik, mundur, flasback, atau juga disebut sebagai regresi. Plot pada cerpen dikatakan progresif jika pristiwa-pristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, pristiwa yang pertama diikuti oleh pristiwa-pristiwa yang kemudian. Selanjutnya sebuah novel dikatakan regresi jika urutan kejadian tidak bersifat kronologis. Cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhri, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan.
v Perbedaan plot berdasarkan kriteria jumlah, plot
sub-subplot.
Karya fiksi yaitu cerpen yang berplot tunggal biasanya hanya mengembangkan sebuah cerita dengan menampilkan seorang tokoh utama protogonis yang sebagai hero. Sedangkan plot sub-subplot sebuah karya fiksi dapat saja memiliki lebih dari satu alur cerita yang dikisahkan atau terdapat lebih dari seorang tokoh yang dikisahkan perjalanan hidup, permasalahan, dan konflik yang dihadapinya. Sublot, sesuai dengan penamannya, hanya merupakan bagian dari plot utama.
Karya fiksi yaitu cerpen yang berplot tunggal biasanya hanya mengembangkan sebuah cerita dengan menampilkan seorang tokoh utama protogonis yang sebagai hero. Sedangkan plot sub-subplot sebuah karya fiksi dapat saja memiliki lebih dari satu alur cerita yang dikisahkan atau terdapat lebih dari seorang tokoh yang dikisahkan perjalanan hidup, permasalahan, dan konflik yang dihadapinya. Sublot, sesuai dengan penamannya, hanya merupakan bagian dari plot utama.
v Perbedaan plot berdasarkan kriteria kepadatan
Plot berdasarkan kriteria kepadatan, dibedakan menjadi dua bagian, yaitu plot padat atau atau rapat dan plot longgar dan renggang.
Sebuah cerpen yang berplot padat, ceritanya padat dan cepat sehingga kurang menampilkan adegan-adegan penyituasian yang berkepanjangan. Sedangkan plot longgar dalam sebuah cerpen, pergantian peristiwa demi peristiwa penting berlangsung lambat disamping hubungan antar peristiwa tersebut pun tidaklah erat benar. Artinya, antara peristiwa penting satu dengan yang lain disertai oleh berbagai peristiwa tambahan yang kesemuanya itu dapat memperlambat ketegangan cerita.
Plot berdasarkan kriteria kepadatan, dibedakan menjadi dua bagian, yaitu plot padat atau atau rapat dan plot longgar dan renggang.
Sebuah cerpen yang berplot padat, ceritanya padat dan cepat sehingga kurang menampilkan adegan-adegan penyituasian yang berkepanjangan. Sedangkan plot longgar dalam sebuah cerpen, pergantian peristiwa demi peristiwa penting berlangsung lambat disamping hubungan antar peristiwa tersebut pun tidaklah erat benar. Artinya, antara peristiwa penting satu dengan yang lain disertai oleh berbagai peristiwa tambahan yang kesemuanya itu dapat memperlambat ketegangan cerita.
v Perbedaan plot berdasarkan kriteria isi
Berdasarkan kriteria isi, dibedakan menjadi tiga golongan besar, yaitu plot peruntungan, plot tokohan, plot pemikiran. Plot peruntungan berhubungan dengan cerita yang mengungkapkan nasib, peruntungan, yang menimpa tokoh yang menjadi fokus ceirta yang bersangkutan, plot peruntungan dibedakan menjadi enam bagian, yaitu plot gerak, plot sedih, plot tragis, plot penghukuman, plot sentimental, dan plot kekaguman. Selanjutnya, plot penokohan.
Menyaran pada adanya sifat pementingan tokoh-tokoh yang menjadi fokus perhatian. Plot pembentukan, plot pengujian dan plot kemunduran. Sedangkan plot pemikiran mengungkapkan sesuatu yang menjadi bahan pemikiran keinginan, perasaan, berbagai macam obsesi, dan lain-lain. Hal yang menjadi masalah hidup dan kehidupan manusia. Friedman dalam Nurgiyantoro (2007: 163) membedakan plot-plot pemikiran ke dalam empat bagian, yaitu plot pendidikan, plot pembukaan rahasia, plot ajektif, dan plot kekecewaan.
Berdasarkan kriteria isi, dibedakan menjadi tiga golongan besar, yaitu plot peruntungan, plot tokohan, plot pemikiran. Plot peruntungan berhubungan dengan cerita yang mengungkapkan nasib, peruntungan, yang menimpa tokoh yang menjadi fokus ceirta yang bersangkutan, plot peruntungan dibedakan menjadi enam bagian, yaitu plot gerak, plot sedih, plot tragis, plot penghukuman, plot sentimental, dan plot kekaguman. Selanjutnya, plot penokohan.
Menyaran pada adanya sifat pementingan tokoh-tokoh yang menjadi fokus perhatian. Plot pembentukan, plot pengujian dan plot kemunduran. Sedangkan plot pemikiran mengungkapkan sesuatu yang menjadi bahan pemikiran keinginan, perasaan, berbagai macam obsesi, dan lain-lain. Hal yang menjadi masalah hidup dan kehidupan manusia. Friedman dalam Nurgiyantoro (2007: 163) membedakan plot-plot pemikiran ke dalam empat bagian, yaitu plot pendidikan, plot pembukaan rahasia, plot ajektif, dan plot kekecewaan.
0 comments:
Post a Comment